Selasa, 12 April 2011

Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih..


Setiap kita dilahirkan di dunia bukanlah suatu kebetulan, semua ada dalam rencanaNya dan kita dipanggil untuk menggenapi rencanaNya termasuk panggilan hidup kita. Namun, satu rencana terbesar dan paling mendasar dalam hidup kita yang harus pertama kali Tuhan panggil dan kerjakan... yaitu memanggil kita karena Dia mau berurusan dengan hati kita.  

Mau menjadi kuda liarkah kita, atau menjadi kuda yang dilatih dan dinaiki oleh Raja kita? Untuk menjadi kuda Raja, kita harus siap dikekang dan diarahkan oleh Raja kita, kita harus mau rela menanggung bobot "Kabod" sang Raja kita. Jika seekor kuda itu tetap tidak mau dilatih (bayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan), maka ia slamanya adalah kuda liar dan tidak terpilih menjadi salah satu kuda terbaik kerajaan.

Saya sering mengamati bagaimana penjual martabak membuat martabak. Adonan seukuran bola pimpong telah dipersiapkan untuk menjadi kulit martabak. Bayangkan bagaimana jika adonan itu telah menjadi beku es, maka penjual tidak dapat begitu mudah membuat kulit martabak. Adonan itu harus rela ditekan-tekan, diolesi dengan minyak, dilempar-lempar untuk supaya menjadi sebuah kulit martabak. Apakah hati kita yang adalah adonan bagi pekerjaan Tuhan, telah menjadi sebongkah es yang kaku? sehingga kita telah "beku" untuk hati Tuhan dan keadaan sekeliling kita? Hal seperti itu membuat kita tidak terpilih menjadi bagian dari rencanaNya di akhir zaman.


Dengan maksud yang sama, namun berbeda dengan ilustrasi di atas, sebenarnya saya ingin membagikan tentang proses pembuatan bejana yang diawali dari sebuah tanah liat. "Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu." - Yesaya 64:8. Kita ini tanah liat,berasal dari tanah liat, namun jika diperjelas oleh Amsal 4: 23 bahwa hati adalah sumber memancarnya kehidupan kita, maka dapat dikatakan bahwa hati kita inilah tanah liat yang ingin Tuhan kerjakan. Tuhan memanggil kita hari-hari ini untuk mau dibentuk menjadi bejana, namun dalam prosesnya, sedikit dari kita yang tetap bertahan sampai menjadi bejana pilihanNya.


Masa persiapan bahan mentah

  • Proses pertama : "Bongkahan-bongkahan tanah liat yang dikumpulkan harus dipukul-pukul supaya lembut". Batu-batu yang tampak mata akan disingkirkan. Tahap awal, Tuhan dengan lembut menuntun kita, mengingatkan kita akan kerikil-kerikil "karakter" kita yang harus segera disingkirkan. Saat itulah kita beroleh kasih karuniaNya, sehingga hati kita dilembutkan dan dibersihkan oleh FirmanNya setiap hari dan mau "dibujuk" oleh Tuhan.

  • Namun, setelah beberapa waktu menjadi benar-benar tanah yang menyerupai bubuk lembut, maka proses kedua akan kita lewati, yaitu: proses "dibasahi supaya menjadi gumpalan yang bersih dan lembut". Bubuk butiran tanah liat diberi air kemudian diremas-remas dan diaduk-aduk sehingga menjadi adonan tanah liat. Kemudian dimampatkan menjadi bentuk yang dikhususkan. Selama kita mau dilembutkan, maka saat itu kita merasakan bagaimana Tuhan mulai mengarahkan hidup kita. Kita merasakan pimpinan Tuhan atas apa yang kita kerjakan, arah panggilan Tuhan atas hidup kita.  Namun sebenarnya kerikil-kerikil "karakter" dan unsur-unsur lain masih belum 100% hilang.

  • Proses ketiga: "proses penjemuran/ pengeringan". Inilah pertama kalinya kita merasakan kesendirian dan keheningan dalam Tuhan. Seakan-akan kita mengalami penundaan dan pengabaian dari Tuhan dan sesama kita. Seakan-akan kita dilupakan dan tidak dihiraukan. Saat proses ini, kita akan bermasalah dengan waktu, gambar diri dan karakter kita yang sebenarnya. Mungkin dari kita berwatak keras, sombong, susah dinasihati, rusaknya gambar diri bapa/ibu,  miskin pengertian dan hikmat, miskin prinsip nilai kebenaran, mengasihani diri dan bahkan kurangnya kasih sayang yang kita dapatkan. Karakter-karakter yang sebnarnya itu akan mulai tampak.


Jika kita berhasil melewatinya dengan kesadaran untuk mau berubah dan kerelaan untuk mau dipulihkan, proses keempat akan tiba yaitu : "dipukul kembali menjadi bubuk, ditampi dan disaring supaya makin lembut dan dibuang kerikil-kerikil yang tersisa". Ini proses akhir dari masa persiapan bahan mentah untuk masuk dalam masa selanjutnya. Proses akhir ini harus melewati seleksi yang lebih ketat, tidak boleh ada kerikil kecil atau bahan lain yang nantinya bisa merusak dan menggagalkan proses pembuatan bejana. Proses ini seperti proses pemurnian emas, yang dibakar hingga mencair, kemudian diberi cairan kimia tertentu sehingga semua kotoran dan logam-logam campuran akan naik ke permukaan, dan setelah itu kotoran dan logam-logam campuran itu diambil dan dibuang. Ketahuilah, ini adalah masa campur tangan Tuhan untuk mengambil setiap kotoran demi kotoran bagi mereka yang mau untuk masuk dalam tahap selanjutnya. Kunci untuk berhasuk adalah hati yang terbuka, mau dibongkar, mau bertobat, kerelaan hati dan kerendahan hati untuk memegang kuat FirmanNya. Kalau kita belum berhasil melewati ini, maka masa selanjutnya tidak bisa kita jalani. Kita harus melewati proses ini dan tidak bisa "skip". Lama tidaknya proses ini bergantung sebesar apa kerelaan kita.


Masa pembuatan bejana

Masa ini dimulai dengan proses pertama yaitu : "bahan mentah diberi air, dibentuk berulang-ulang dengan alat putar, kadang diratakan dengan kayu". Dibentuk berulang-ulang sampai sesuai dengan apa yang Tuhan mau. Jika sang Penjunan tidak menyukainya, Ia akan meremas-remasnya kembali menjadi gumpalan, lalu... memulai kembali dari awal. Berapa kali Tuhan harus meremas-remas hati kita menjadi gumpalan kembali ketika ditemui jika banyak bentukan yang tidak sesuai dengan kehendakNya? Brapa banyak waktu yang terbuang? Saat proses ini, hati kita masih memiliki keinginan sendiri, kelemahan hati. Bagi manusia, tidak mudah untuk menyelami hati dan apa maunya Tuhan. Oleh karena itu, dengan hati yang sudah lembut dan bersih, kita mau belajar rela untuk diarahkan dan mengenal cara Dia bekerja. Ada suatu waktu, tiba-tiba Tuhan mencabut bagian dari hidup kita, biasanya yang berharga buat hati kita. Suatu ketika pula, kita dihadapkan dengan kerasnya "kayu" Firman Tuhan yang mendidik kita.

Setelah Tuhan menyukai bentuknya, maka proses kedua yang akan kita alami adalah: "didinginkan dalam gudang bertahun-tahun lamanya". Tujuannya adalah supaya bejana hasil bentukan itu menjadi sempurna, tanah liatnya menjadi kokoh, solid, padat dan tidak mudah pecah, sanggup menampung air tanpa rembesan. Ini adalah proses ujian penundaan dan dilupakan. Banyak yang menyerah karena tidak tahan dan meninggalkan apa yang Tuhan mau dalam hidupnya. Kadang ketika kita merasa dilupakan dan diabaikan, air mata kita bisa sering mengalir dan tiba-tiba kehilangan smangat. Kuncinya adalah komitmen untuk sampai pada garis akhir, tetap berjuang, memiliki pengertian, ketabahan, kesabaran dan jiwa yang besar.

Proses ketiga: "proses diwarnai". Proses yang menuntut kepasrahan karena Tuhan akan melukis dan menorehkan warna dalam hati dan hidup kita. Tidak ada iri/ protes dengan bejana yang lain. Setiap bejana akan Tuhan ukir berbeda sesuai dengan asal mula yang Tuhan mau. Kasih Tuhan sama bagi smua bejanaNya, namun cara Tuhan menyatakan kasihNya seringkali berbeda antara satu dengan bejana yang lain.

Kita siap dibakar? Karna ini adalah proses selanjutnya: "dibakar supaya warna lukisan itu meresap ke dalam tubuh bejana, menjadi satu antara cat dan tubuh bejana". Ini adalah proses akhir sebelum bejana ditandatangani/ dimateraikan oleh pembuatnya. Pembakaran ini supaya kita makin matang dan dewasa di dalamNya.

Proses yang kita alami akan menghasilkan perubahan hati ke arah yang positif. Hati dan karakter yang Tuhan tidak mau akan dibuangNya. Selain itu, hati kita dipenuhi dengan pengenalan dan pengalaman bersama Tuhan.

Kesemuanya membutuhkan kesiapan kapasitas hati untuk mau diperbesar. Kekuatan hati adalah senjata yang ampuh dalam menjalani kehidupan ini, tapi kapasitas hati yang diperbesar di hadapan Tuhan adalah alat yang ampuh untuk menerima anugrah besar yang dicurahkan dari tanganNya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar